Listeners:
Top listeners:
play_arrow
Radio Gentara Dangdutnya Indonesia
play_arrow
Gentara Campursari Campursarine Indonesia
play_arrow
Gentara Wayangan Substation Gentara Wayangan
Memasuki awal bulan Ramadan 1447 Hijriah, suasana hangat khas ngabuburit kembali terasa di Kabupaten Wonogiri. Dua titik sentra takjil yang menjadi pusat perhatian warga yaitu Sport Tourism Center (STC) Pringgodani dan Alun-Alun Giri Krida Bakti, dipadati pengunjung setiap sore menjelang waktu berbuka puasa.
Sejak menjelang sore, warna-warni kios takjil mulai bermunculan di kawasan STC Pringgodani. Para pedagang lokal menawarkan aneka menu berbuka yang menggugah selera; dari kolak pisang manis, es buah segar, gorengan hangat, hingga camilan modern yang kini menjadi favorit generasi muda. Antusiasme warga membuat kedua lokasi itu berubah menjadi lautan manusia, berjalan santai sambil memilih takjil sembari menikmati suasana Ramadhan yang khas.
Tak jauh dari situ, Alun-Alun Giri Krida Bakti juga tak kalah ramai. Ruang terbuka yang biasanya menjadi tempat berkumpul keluarga di malam minggu kini berubah jadi pasar takjil dadakan penuh aktivitas. Sore hari menjadi momentum bagi banyak keluarga, remaja, hingga lansia untuk datang lebih awal, berburu hidangan berbuka sebelum azan Maghrib berkumandang.
Keramaian di kedua lokasi ini tidak hanya sekadar soal makanan, tetapi juga sebagai wadah berkumpulnya masyarakat setelah beraktivitas di siang hari. Suasana ngabuburit terasa semakin hidup diiringi gelak tawa anak-anak dan obrolan santai antar tetangga yang saling bertemu di tengah keramaian. Pemuda dan pemudi bahkan memanfaatkan momen ini untuk berswafoto dan berbagi konten media sosial, menunjukkan bahwa tradisi berburu takjil kini juga menjadi bagian dari tren lokal yang tak kalah menarik.
Selain memenuhi kebutuhan kuliner buka puasa, keberadaan sentra takjil ini memiliki dampak ekonomi positif. Banyak UMKM lokal dan pedagang kecil yang merasakan lonjakan penghasilan selama Ramadan, karena pengunjung bukan hanya membeli satu atau dua porsi, tetapi sering kali berburu beberapa jenis makanan sekaligus untuk dinikmati bersama keluarga.
Keramaian ini juga menjadi bukti betapa tradisi ngabuburit dan berburu takjil tetap kuat di tengah masyarakat Wonogiri. Di tengah rutinitas harian, Ramadan memberikan kesempatan bersua yang lebih luas — antara sahabat, tetangga, atau bahkan warga dari luar kota yang mampir sekadar ikut merasakan suasana khas buka puasa.
Dengan selesainya azan dan waktu berbuka tiba, suasana takjil berubah menjadi kebersamaan keluarga serta doa bersama, menutup sore Ramadan dengan penuh rasa syukur. Tradisi ini menjadi gambaran indah bagaimana Ramadan tak hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mempererat tali silaturahmi dan semangat gotong royong dalam kehidupan masyarakat Wonogiri.
Written by: Fatma Nugrahani
Lokal Wonogiri Ngabuburit Ramadhan Wonogiri STC Pringgodani Takjil
Post comments (0)