Listeners:
Top listeners:
play_arrow
Radio Gentara Dangdutnya Indonesia
play_arrow
Gentara Campursari Campursarine Indonesia
play_arrow
Gentara Wayangan Substation Gentara Wayangan
Kembalinya Jejak Sejarah: Gusti Bhre Resmikan Monumen Pangeran Sambernyawa di Wonogiri
Pada Sabtu, 6 Desember 2025, suasana di kawasan Watu Gilang Nglaroh, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, dipenuhi rasa haru dan kebanggaan. Di tengah jejak pegunungan dan alam pedesaan, sebuah momentum bersejarah terjadi: Gusti Bhre — pemangku tahta keraton Mangkunegaran saat ini — datang langsung dan membubuhkan tanda tangan pada prasasti Taman Monumen Raden Mas Said.
Latar Belakang Sejarah
Monumen ini menjadi pengingat atas perjuangan Raden Mas Said — dikenal pula sebagai “Pangeran Sambernyawa” — yang pada masa lalu pernah menjadikan wilayah Nglaroh/Wonogiri sebagai basis perjuangannya melawan ketidakadilan. Menurut catatan sejarah, Watu Gilang Nglaroh merupakan tempat strategis yang digunakan Raden Mas Said untuk merumuskan strategi perlawanan.
Sejak dulu, bekas – bekas situs petilasan, seperti batu tempat berdiri, sendang, dan area strategis lainnya, dianggap sebagai bagian penting dari warisan sejarah lokal. Namun dalam beberapa dekade terakhir, kesadaran dan perlindungan terhadap situs-situs ini sempat luntur. Penandatanganan prasasti menjadi simbol kebangkitan kembali — pengakuan resmi atas nilai sejarah dan upaya pelestarian budaya.
Penandatanganan Prasasti & Arti Simbolis
Dalam prosesi sederhana namun sakral, Gusti Bhre dan Setyo Sukarno selaku Bupati Wonogiri bersama-sama membubuhkan tanda tangan pada prasasti tersebut. Penandatanganan ini sekaligus menjadi deklarasi bahwa Monumen Raden Mas Said di Watu Gilang adalah bagian dari warisan bersama, yang perlu dilindungi, dilestarikan, dan dikembangkan sebagai pijakan identitas serta kebanggaan lokal.
Dalam sambutannya Gusti Bhre menyebut bahwa meskipun Mangkunegaran secara administratif tidak lagi menguasai tanah ini, secara historis, hubungan antara Wonogiri dan Mangkunegaran tetap ada — dan penandatanganan ini adalah jembatan pengakuan itu. Dia berharap bahwa monumen bukan hanya menjadi tempat ziarah sejarah, tetapi juga bisa menjadi titik awal untuk kebangkitan kesadaran sejarah, pendidikan budaya, dan potensi wisata heritage di Wonogiri.
Harapan untuk Masa Depan: Pariwisata & Pendidikan Sejarah
Bupati Setyo Sukarno menekankan bahwa penandatanganan prasasti ini bukan hanya soal simbol — tetapi langkah awal memperkuat dokumen sejarah, mempermudah akses arsip lama, serta mempromosikan potensi warisan sejarah sebagai daya tarik wisata. Ia berharap semangat perjuangan Raden Mas Said bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda: bahwa kebersamaan, keberanian, dan identitas budaya bisa menjadi modal maju.
Bagi masyarakat lokal, monumen ini bisa menjadi sumber kebanggaan — sekaligus jembatan antara masa lalu dan masa depan. Selain sebagai wisata heritage dan spiritual, kehadiran monumen bisa menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga warisan sejarah, serta memberi nilai tambah ekonomi melalui kunjungan wisata dan kegiatan budaya.
Kesimpulan: Warisan Bangsa, Akar Identitas
Penandatanganan prasasti Monumen Raden Mas Said oleh Gusti Bhre di Wonogiri adalah langkah simbolis dan strategis — bukan hanya untuk mengenang masa lalu, tapi untuk meletakkan batu pondasi bagi masa depan. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, kehadiran monumen ini menjadi pengingat: bahwa akar budaya, sejarah perjuangan, dan identitas lokal harus dijaga dan dilestarikan.
Semoga semangat Raden Mas Said — keberanian, keadilan, dan kecintaan terhadap tanah air — terus hidup di generasi berikutnya. Dan semoga Taman Monumen ini bisa menjadi saksi hidup bahwa sejarah bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga sumber inspirasi masa depan.
Written by: Fatma Nugrahani
Gusti Bhre Monumen Radem Mas Said Sejarah Wonogiri
Post comments (0)