Nasional

Wacana Jual Minyak Jelantah MBG ke Asing Picu Kritik

todayNovember 27, 2025 47

Background
share close

Baru-baru ini, kabar mengejutkan datang dari arena kebijakan pangan dan lingkungan: minyak jelantah bekas masak di program MBG disebut bisa dijual kembali — bahkan ditujukan untuk pasar internasional. Pandangan ini dilontarkan oleh BGN yang menyebut jelantah MBG sebagai potensi biofuel. Namun rencana ini langsung menuai kritik keras — tidak hanya soal moral dan nasionalisme, tetapi juga soal transparansi dan potensi penyalahgunaan.

Dari Dapur hingga Meja Hijau

Setiap dapur MBG menghasilkan ratusan liter minyak goreng yang dipakai untuk memasak makanan. Dari situ, sisa minyak — atau jelantah — dianggap limbah. Menurut BGN, jelantah ini bisa diolah ulang menjadi bahan bakar atau ekspor. Namun, ketika BGN membuka opsi komersialisasi, termasuk kepada entitas asing, reaksi publik dan sejumlah pakar pun lantang memprotes. Mereka menilai, menjual jelantah hasil program sosial ke luar negeri seperti mengambil keuntungan dari program publik — sesuatu yang jauh dari semangat nasionalisme.

Potensi Bisnis? Atau Risiko Moral dan Administratif?

Menurut perhitungan kasar, jika setiap dapur MBG menghasilkan jelantah dalam jumlah besar dan harga per liter ditetapkan oleh pasar — potensi pendapatannya bisa mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Tapi kritik mengingatkan: potensi uang besar bisa memancing penyimpangan. Ada kekhawatiran bahwa pengelolaan jelantah bisa keluar dari jalur semula — menjauh dari tujuan sosial MBG, menjadi ajang komersial terselubung, atau bahkan eksploitasi. Salah satu pengkritik menyarankan bahwa kalau tetap ingin memanfaatkan jelantah, lebih baik dijual ke perusahaan dalam negeri seperti Pertamina, agar hasilnya kembali ke negara dan masyarakat.

Sistem Gizi dan Lingkungan, Dipertaruhkan

BGN sendiri mengklaim bahwa penggunaan jelantah sebagai bahan bakar alternatif atau biofuel adalah langkah ramah lingkungan, serta membantu mengurangi limbah dapur dari program MBG. Namun banyak pihak mempertanyakan: apakah program sosial seperti MBG cocok dijadikan bahan untuk bisnis? Apakah pengawasan dan transparansi dijamin, agar manfaat minyak bekas tersebut benar-benar kembali ke masyarakat — bukan hanya pendapatan besar bagi segelintir pihak?

Kesimpulan — Saat Sosialitas dan Kapitalisme Saling Bersaing

Wacana penjualan minyak jelantah MBG membuka banyak persoalan: dari etika, nasionalisme, ekonomi, hingga lingkungan. Di satu sisi, jelantah bisa diolah dan dimanfaatkan — mencegah limbah dan memberi nilai ekonomis. Di sisi lain, pelepasan minyak jelantah ke entitas asing memancing kritik: apakah kita mengorbankan semangat sosial demi keuntungan?

Krisis kepercayaan bisa muncul jika proses dan regulasi tidak transparan. Maka, tugas sosial program wartakan sebagai program sosial — bukan sebagai ladang bisnis terselubung.

Bagi publik, ini bukan sekadar soal jelantah atau uang. Ini soal kejelasan, niat baik, dan tanggung jawab bersama menjaga program sosial tetap pada jalurnya: mensejahterakan masyarakat, bukan meraup untung lewat limbah.

Written by: Fatma Nugrahani

Rate it

Post comments (0)

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Cover Art