Listeners:
Top listeners:
play_arrow
Radio Gentara Dangdutnya Indonesia
play_arrow
Gentara Campursari Campursarine Indonesia
play_arrow
Gentara Wayangan Substation Gentara Wayangan
Hubungan dagang global semakin dinamis menyusul terjalinnya perjanjian perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). Kesepakatan ini menimbulkan respons dari berbagai negara, termasuk China, yang merupakan mitra dagang penting di Asia.
Perjanjian dagang yang dikenal sebagai Agreement on Reciprocal Trade (ART) ini mencakup sejumlah ketentuan baru, seperti penghapusan tarif impor untuk banyak produk Indonesia dan beban tarif 19 persen untuk sebagian besar produk AS. Indonesia juga akan mengadopsi tindakan tertentu yang setara dengan kebijakan tarif yang diberlakukan AS terhadap negara ketiga, apabila hal tersebut dianggap relevan dengan keamanan ekonomi atau nasional masing-masing pihak.
Menanggapi hal tersebut, pemerintah China melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning menyampaikan perhatian Beijing terutama terhadap ketentuan pembatasan impor yang berpotensi berdampak pada negara pihak ketiga di luar Indonesia dan AS. Mao Ning menekankan bahwa perjanjian dagang antara dua negara besar seperti Indonesia dan AS seharusnya tidak merugikan kepentingan pihak lain di pasar global.
Pernyataan ini muncul dalam konferensi pers di Beijing, di mana Mao Ning juga menggarisbawahi bahwa kerja sama dagang dan ekonomi internasional perlu dilakukan dengan prinsip yang adil dan tidak diskriminatif terhadap pihak lain di luar hubungan bilateral. Ketentuan pasal tertentu dalam perjanjian tersebut dinilai China dapat menjadi kompleks apabila diterapkan secara luas dalam praktik perdagangan internasional.
Selain isu keterkaitan pembatasan impor yang setara, perjanjian tersebut juga membuka kesempatan bagi Indonesia untuk mendapatkan pembebasan tarif impor bagi lebih dari 1.800 pos tarif produk Indonesia di pasar AS, termasuk komoditas seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, serta komponen elektronik. Hal ini mencerminkan upaya Indonesia untuk memperluas akses pasar dan memperkuat ekspor strategisnya ke Amerika Serikat.
Tanggapan China ini mencerminkan dinamika yang kerap terjadi dalam hubungan perdagangan global di mana kesepakatan bilateral bisa memiliki implikasi lebih luas bagi para pemangku kepentingan lainnya, termasuk negara yang memiliki kepentingan ekonomi di pasar yang sama. Ini juga menunjukkan bagaimana negara besar seperti China memperhatikan kebijakan perdagangan yang melibatkan mitra strategisnya di kawasan Asia.
Perdagangan internasional yang kian kompleks menuntut negara-negara peserta untuk memikirkan dampak perjanjian bilateral terhadap hubungan multilateral yang lebih luas. Dalam konteks Indonesia, respons China merupakan bagian dari dialog global yang terus berkembang dalam menentukan arah kebijakan perdagangan di masa depan.
Written by: Fatma Nugrahani
AS China Ekonomi Global Indonesia Perdagangan Internasional
Post comments (0)