Listeners:
Top listeners:
play_arrow
Radio Gentara Dangdutnya Indonesia
play_arrow
Gentara Campursari Campursarine Indonesia
play_arrow
Gentara Wayangan Substation Gentara Wayangan
Dari Pasar Ramai ke Lokasi Persoalan: Area Pasar Slogohimo Terbakar dan Jadi Tempat Pembuangan Sampah
Kesibukan Pasar Slogohimo di Kabupaten Wonogiri selama puluhan tahun menjadi nadi perekonomian warga setempat. Di sana, para pedagang berkumpul menawarkan ragam kebutuhan sehari-hari—sayur mayur segar, lauk pauk, hingga dagangan kecil yang menjadi penopang hidup keluarga. Namun akhir-akhir ini, kawasan yang semula hiruk-pikuk aktivitas itu justru berubah menjadi sebuah cerita lingkungan yang memprihatinkan.
Beberapa pekan lalu, sebuah kebakaran hebat menghanguskan area pasar lama Slogohimo. Api yang berkobar cukup lama tidak hanya melalap bangunan kecil dan kios pedagang, tetapi juga membuat sebagian area itu kini tak lagi layak digunakan sebagaimana mestinya. Setelah kejadian, lokasi bekas pasar itu perlahan menjadi titik pembuangan sampah oleh sebagian pihak, sehingga menimbulkan persoalan baru: bau tidak sedap yang mengganggu warga sekitar serta potensi kesehatan lingkungan yang terancam.
Para pedagang dan warga yang tinggal tak jauh dari area itu masih terngiang oleh suasana kebiasaan lama — pasar yang ramai oleh sapaan ramah antar tetangga, transaksi kecil dan besar, serta aroma masakan tradisional yang menggugah selera. Namun kini, yang terlihat hanyalah tumpukan sampah di bekas bangunan pasarnya, lengkap dengan bau yang menusuk, terutama saat terik siang atau lembap di sore hari.
“Kami merindukan pasar yang dulu,” ujar seorang ibu pedagang yang enggan menyebut nama. “Sekarang, apa yang tersisa hanya sampah dan bau yang setiap hari kami hirup.” Ia menambahkan bahwa banyak pedagang kecil kini harus mencari lokasi baru untuk berdagang, sementara area bekas pasar belum juga mendapatkan penanganan yang tepat dari pihak yang berwenang.
Bau tak sedap yang timbul dari area bekas pasar ini pun berdampak pada kesehatan warga. Beberapa warga melaporkan keluhan gatal di tenggorokan, sakit kepala ringan, serta rasa tidak nyaman yang muncul setelah beraktivitas di sekitar lokasi. Ketika jalan setapak yang biasanya dilalui anak-anak sekolah kini diwarnai sampah yang berserakan, kekhawatiran orang tua pun semakin meningkat.
Menurut pemberitaan RadarSolo Jawa Pos, persoalan ini juga memicu reaksi dari lembaga lingkungan dan pemerhati sosial setempat yang mendorong pemerintah desa dan kecamatan untuk segera menata ulang area bekas pasar. Sayangnya, hingga kini upaya penataan ulang belum berjalan optimal, dan sebagian warga mempertanyakan langkah pemerintah setempat dalam menangani pasca-kebakaran yang meninggalkan dampak ganda ini.
Kisah bekas Pasar Slogohimo ini menjadi pengingat akan pentingnya rencana pemulihan yang holistik — bukan sekadar menghadapi satu peristiwa bencana seperti kebakaran, tetapi juga dampaknya dalam jangka panjang. Ketika sebuah titik penting dalam aktivitas sosial dan ekonomi warga berubah menjadi lokasi persoalan lingkungan, itu berarti ada kebutuhan lebih besar dari sekadar perbaikan fisik: yakni penataan ruang yang mengutamakan kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan komunitas.
Harapan warga kini tertumpuk pada pemerintah desa dan kecamatan untuk segera melakukan langkah nyata: membersihkan area, mengelola sampah secara layak, serta merancang kembali fungsi kawasan bekas pasar agar tidak hanya bersih, tetapi juga ramah bagi lingkungan dan kehidupan publik yang lebih baik.
Written by: Fatma Nugrahani
Pasar Slogohimo Pasca Kebakaran Pencemaran Lingkungan
Post comments (0)