Listeners:
Top listeners:
play_arrow
Radio Gentara Dangdutnya Indonesia
play_arrow
Gentara Campursari Campursarine Indonesia
play_arrow
Gentara Wayangan Substation Gentara Wayangan
Di Kabupaten Wonogiri, Sabtu-Minggu lalu tak seperti biasanya. Deretan anak, remaja, hingga orang tua tampak antusias mengikuti rangkaian acara yang tak lazim di tengah hiruk-pikuk keseharian — bukan konser, bukan bazar biasa, melainkan sebuah festival literasi. Ya: Festival Literasi Gajah Mungkur 2025 (Fesligamu 2025) resmi digelar sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya membaca, menulis, dan literasi di masyarakat.
Acara dibuka resmi oleh Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno, pada 24 November 2025 — tepat saat festival dimulai. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa literasi adalah fondasi penting untuk menciptakan sumber daya manusia berkualitas, serta kunci agar Wonogiri bisa tumbuh menjadi daerah yang cerdas dan berdaya saing.
Literasi untuk Semua: Festival, Lomba, dan Bunda Literasi
Fesligamu tak hanya sekadar kumpulan acara — festival ini dipenuhi dengan aktivitas yang melibatkan berbagai lapisan masyarakat: lomba perpustakaan desa, lomba video konten literasi, resensi buku, lomba bertutur untuk anak-anak SD, hingga bazar buku dan workshop kreatif. Semua dirancang untuk menjadikan kebiasaan membaca, menulis, dan bercerita sebagai bagian hidup sehari-hari. Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan, 25 kecamatan di Wonogiri juga mengukuhkan perwakilan “Bunda Literasi” — figur lokal yang diharap bisa menjadi motor penggerak literasi di tingkat desa/kecamatan. Langkah ini memperlihatkan bahwa literasi dianggap tanggung jawab bersama, bukan sekadar tugas Dinas atau sekolah.
Kenapa Literasi di Tengah Keluarga Penting
Di era digital seperti sekarang, informasi bisa datang dari mana saja — lewat gawai, media sosial, video pendek. Tantangan besar muncul: minat baca buku fisik banyak memudar, dan banyak keluarga yang kesulitan menanamkan kebiasaan membaca pada anak. Festival seperti Fesligamu hadir untuk menjembatani ini. Dengan mengajak semua generasi — dari anak kecil sampai orang dewasa — festival merayakan bahwa literasi bukan cuma soal sekolah, tapi gaya hidup. Melalui lomba bertutur, lomba resensi, dan kegiatan baca bersama di perpustakaan desa, Fesligamu memberi ruang bagi keluarga dan komunitas untuk kembali merasakan nikmatnya buku, cerita, dan diskusi — hal yang makin langka di era scroll tanpa henti.
Dampak Positif dan Harapan ke Depan
Menurut Bupati Wonogiri, Fesligamu bukan sekadar acara sesaat — ini bagian dari strategi besar untuk meningkatkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) di kabupaten. Lewat festival ini, diharapkan semakin banyak perpustakaan desa yang aktif, semakin banyak keluarga mengajak anaknya membaca, dan budaya literasi bisa merebak tidak hanya di kota tetapi juga pedesaan. Jika semua pihak — pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas — bergerak bersama, maka literasi bisa menjadi pondasi kuat untuk masa depan generasi selanjutnya.
Festival Literasi Gajah Mungkur 2025 menunjukkan bahwa literasi bisa hidup jika dibangkitkan secara bersama — lewat festival, lewat komunitas, lewat keluarga. Semoga Fesligamu jadi awal kebangkitan budaya baca dan tulis di Wonogiri, dan menginspirasi daerah lain untuk membuat gerakan serupa. Karena, dengan literasi, kita tak hanya membaca buku — tapi membentuk masa depan.
Written by: Fatma Nugrahani
Arpusda Fesligamu Literasi Wonogiri
Post comments (0)